Karena Mario Wangi Banget

Published by admin on April 21, 2014 2:35 pm in News.

NYARIS saja Aspac Jakarta kalah dua kali beruntun di Speedy NBL Indonesia 2013-2014 Seri V Jakarta. Sang juara bertahan itu dipaksa bekerja keras hingga akhirnya menang tipis 68-67 atas CLS Knights Surabaya tadi malam.

Dua tim datang dengan mental yang berbeda dalam laga itu. Sehari sebelumnya Aspac kalah dalam laga klasik melawan seteru terbesarnya, Satria Muda Britama Jakarta. Sementara itu, CLS dalam kepercayaan diri tinggi setelah menghabisi Pelita Jaya Energi Mega Persada Jakarta dengan skor 73-57 alias unggul 16 poin.

Benar saja, CLS langsung tancap gas dengan unggul delapan poin hingga tengah kuarter ketiga. Dalam kondisi tertekan, rookie of the year , sixth man of the year , dan salah seorang kandidat Most Valuable Player (MVP) 2012-2013 Andakara Prastawa Dhyaksa harus keluar arena.

Prastawa secara tidak sengaja terkena sikut Dimaz Muharri hingga pelipis kirinya mengeluarkan darah segar. Kehilangan seorang scorer penting ternyata tidak membuat kapal Aspac limbung.

Tim milik Irawan ”Kim Hong” Haryono itu bangkit dan menyamakan kedudukan 54-54 lewat tembakan Mario Gerungan pada awal kuarter keempat.

Kapten Gerungan yang menggantikan Prastawa menjadi aktor sangat penting untuk mengembalikan performa Aspac. Dia kembali mencetak dua tembakan tiga angka di kuarter terakhir. Total, Gerungan membukukan 9 di antara 13 poin di seperempat akhir laga.

Laga berjalan dramatis. Aspac yang unggul lima poin saat 1 menit 10 detik sebelum laga usai mengalami tekanan intens. Ketika pertandingan kurang dari 17 detik, sebuah layup point guard Dimaz Muharri membuat CLS hanya tertinggal satu poin (67-68).

Upaya CLS untuk menang patah setelah Andrie Ekayana gagal melakukan driving layup tiga detik sebelum laga usai. Yayan -panggilan Andrie Ekayana- tidak di posisi yang sempurna.

”Saya sempat jantungan. Sebab, memang kalau dalam posisi itu Yayan biasanya masuk,” ucap Rastafari Horongbala, head coach Aspac, setelah laga.

”Prastawa tidak apa-apa. Dimaz memang tidak sengaja melakukannya. Tetapi, justru dengan tidak mainnya Prastawa, Mario malah naik,” ucap Coach Fari yang juga ayah kandung Prastawa. Coach Fari menambahkan, kunci kemenangan timnya ialah membuat susah Mario Wuysang dan Yayan. Dengan pressing ketat, kehebatan dua bintang CLS itu bisa dihambat. ”Umur, bagaimanapun tidak bisa bohong,” kata Coach Fari soal Wuysang dan Yayan yang masing-masing berusia 35 tahun dan 32 tahun.

Yayan agak menyesal memaksakan layup pada detik-detik terakhir itu. Seharusnya dia memberikan umpan kepada Wuysang yang berada dalam posisi kosong.

”Saat melawan Pelita Jaya, eksekusi kami baik. Sedangkan hari ini kami sering miskomunikasi. Tetapi, mau bilang apa lagi, Mario Gerungan sedang wangi baget. Padahal, Pras dan Ius (Xaverius Prawiro, Red) bisa kami antisipasi,” ucap Yayan.

Mario Gerungan menjadi top scorer dengan 13 poin. Sedangkan Prastawa dan rookie Ebrahim Enguio Lopez masing-masing mencatat 12 angka.

Dalam big match yang lain, PJ akhirnya bisa bangkit dengan mengalahkan Garuda Kukar Bandung dengan skor 81-74. Shooting guard Dimas Aryo Dewanto mencetak angka terbanyak dengan 19 poin. Ary Chandra dan Hendru Ramli masing-masing mencetak 17 angka. (nur/aam/c4/ham)

Story Provided by Jawa Pos

Sumber: www.nblindonesia.com